Perangkat Ajar Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Kelas 9 MTs
Dalam pendidikan di era modern ini, perhatian tidak hanya tertuju pada penyampaian ilmu, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kemampuan berpikir kritis. Madrasah Tsanawiyah (MTs) menghadapi baik peluang maupun tantangan akibat perubahan dalam kurikulum. Untuk kelas 9, pendekatan kurikulum yang humanis dan mendalam sangat krusial saat para siswa bersiap melanjutkan ke jenjang edukasi yang lebih tinggi dan menghadapi tantangan usia remaja.
Sekarang adalah waktu yang tepat untuk merancang penerapan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam), yang diimplementasikan melalui pengembangan perangkat ajar KBC kelas 9 yang sepenuhnya terstruktur ulang: Modul Ajar, Capaian Pembelajaran (CP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP), Program Tahunan (Prota), Program Semester (Promes), dan Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP).
Filosofi Dasar: Mengapa Cinta dan Deep Learning?
Kurikulum Berbasis Cinta tidak sekadar jargon. Ini merupakan paradigma yang menekankan pada hubungan pengajaran yang empatik, pengakuan terhadap keunikan siswa, serta penciptaan ruang belajar yang aman secara psikologis sebagai landasan. Cinta di sini dimaknai sebagai agape pedagogis: dedikasi tulus dari guru untuk melihat potensi terbaik dalam setiap siswa. Dalam pandangan Islam yang menjadi inti Madrasah Tsanawiyah, ini adalah perwujudan dari rahmah (kasih sayang) dan ta'dib (penanaman adab) dalam proses pembelajaran.
Sementara itu, Deep Learning adalah kerangka kompetensi yang melampaui sekadar menghafal. Menurut studi yang dilakukan oleh Fullan dan tim, pembelajaran mendalam mengembangkan enam kompetensi utama (6C): Karakter (Character), Kewarganegaraan (Citizenship), Kolaborasi (Collaboration), Komunikasi (Communication), Kreativitas (Creativity), dan Berpikir Kritis (Critical Thinking). Pendekatan tersebut mengajak siswa untuk menghubungkan pengetahuan dengan konteks nyata, menyelesaikan masalah kompleks, serta merenungkan nilai dari apa yang telah dipelajari.
Penggabungan kedua pendekatan ini menciptakan ekosistem pembelajaran di mana siswa merasa dihargai (kurikulum berbasis cinta) sekaligus mendapatkan tantangan intelektual (deep learning), yang sangat sesuai dengan tahap perkembangan remaja di kelas 9 Madrasah Tsanawiyah.
Rekonstruksi Perangkat Ajar Kelas 9: Dari Filosofi ke Praktik
Pelaksanaan ide ini memerlukan perubahan menyeluruh dari semua perangkat ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) kelas 9 MTs.
1. Capaian Pembelajaran (CP): Menyusun Tujuan yang Holistik
CP untuk kelas 9 seharusnya tidak hanya mencakup aspek kognitif. Ia mesti menggambarkan dimensi cinta dan pembelajaran mendalam. Contohnya, pada pelajaran IPA:
- Tanpa integrasi: "Siswa menganalisis sistem reproduksi pada tumbuhan dan hewan."
- Dengan integrasi: "Siswa menganalisis sistem reproduksi pada tumbuhan dan hewan dengan rasa syukur (cinta kepada Allah Swt), serta mengkomunikasikan ide pelestarian keanekaragaman hayati berdasarkan analisis yang dilakukan (berpikir kritis, komunikasi)."
CP berfungsi sebagai pedoman yang mengarahkan semua perencanaan selanjutnya menuju pencapaian kompetensi yang menyeluruh.
2. Alur Tujuan Pembelajaran (ATP): Jalan Panjang yang Bermakna
ATP adalah peta perjalanan belajar. Dalam kurikulum berbasis cinta, ATP dibuat dengan mempertimbangkan perjalanan emosional dan intelektual siswa. Alur pembelajaran tidak selalu linier, tetapi memberikan kesempatan untuk momen pengajaran berdasarkan dinamika kelas. Pada pelajaran SKI kelas 9 MTs, ATP tidak hanya fokus pada garis waktu, tetapi merancang fase:
- Mengidentifikasi nilai-nilai keteladanan (karakter),
- Mendidik tentang relevansinya pada masa kini (berpikir kritis, kolaborasi),
- Membuat presentasi kreatif (komik, video pendek) yang mengekspresikan nilai tersebut (kreativitas, komunikasi).
3. Program Tahunan (Prota) dan Program Semester (Promes): Penataan Waktu dengan Pertimbangan Hati
Prota dan Promes dalam konteks ini memperhatikan keseimbangan antara beban kognitif dan emosional bagi siswa kelas 9. Penjadwalan untuk ujian, proyek, atau materi yang berat dibuat dengan mempertimbangkan aspek psikologis seperti persiapan ujian, hari-hari penting dalam agama, atau masa-masa tekanan yang dialami remaja. Promes dikembangkan dengan pendekatan "spiral integratif", di mana tema kasih (terhadap Tuhan, sesama, dan alam) serta kompetensi pembelajaran mendalam (6C) ditampilkan secara berulang dan mendalam setiap semester di berbagai mata pelajaran.
4. Modul Ajar: Inti Pembelajaran
Di sinilah ide-ide diaplikasikan secara nyata. Modul ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) dan pembelajaran mendalam mempunyai karakteristik sebagai berikut:
- Tujuan pembelajaran dibuat dengan kata-kata yang memotivasi serta mengandung unsur sikap.
- Aktivitas pembelajaran lebih banyak mengandalkan penyelidikan (inquiry), proyek kolaboratif, dan proses refleksi. Misalnya, modul ajar Bahasa Indonesia mengenai teks persuasif bisa berupa proyek desain kampanye video "Cinta Lingkungan Sekolah" yang memerlukan analisis, penulisan naskah, serta praktik.
- Penilaian dilakukan secara otentik dan bervariasi: portofolio, jurnal refleksi, presentasi proyek, dan penilaian diri yang mendorong kejujuran.
- Sumber belajar beragam dan relevan dengan konteks, yang terkait dengan kenyataan dan nilai-nilai kehidupan sehari-hari bagi siswa Madrasah Tsanawiyah.
5. Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP): Penilaian yang Memberdayakan
Dalam paradigma ini, KKTP beralih dari sekadar angka batas (Kriteria Ketuntasan Minimal/KKM) menjadi penjelasan kualitatif mengenai perkembangan kompetensi dan karakter siswa. KKTP menjawab pertanyaan: "Seperti apa kondisi siswa yang telah menjalani pembelajaran yang berfokus pada kasih dan pembelajaran mendalam?"
Contoh untuk tujuan "berkolaborasi dalam proyek":
- Terbimbing: Berkolaborasi dalam tim dengan bimbingan guru.
- Terbiasa: Berpartisipasi aktif dalam tim serta mendengarkan pendapat teman-teman (cinta dalam kerja kelompok).
- Mahir: Mengatur dan memimpin tim, mengatasi konflik dengan cara yang konstruktif, dan memastikan perkembangan semua anggota (kolaborasi, karakter).
KKTP yang demikian memberikan umpan balik yang positif dan lebih manusiawi.
Tantangan dan Strategi Penerapan
Tantangan utama terletak pada perubahan pola pikir guru dari sekadar penyampai pengetahuan menjadi fasilitator pembelajaran dan pemberi kasih. Diperlukan:
- Pelatihan mendalam bagi guru dalam membuat perangkat ajar KBC kelas 9 MTs yang baru.
- Kolaborasi antar guru untuk menciptakan perangkat ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) kelas 9 MTs yang terintegrasi.
- Dukungan dari orang tua yang memahami bahwa penilaian tidak hanya sebatas angka.
- Penataan fisik ruang kelas yang mendorong kerja kolaboratif dan ekspresi.
Download Perangkat Ajar KBC Kelas 9 MTs
Penutup
Perangkat ajar kurikulum berbasis cinta (KBC) dan deep learning kelas 9 MTs merupakan upaya untuk menjawab tantangan dalam pendidikan kita. Tujuannya adalah untuk membentuk siswa yang tidak hanya unggul secara akademis dalam menghadapi ujian sekolah, tetapi juga mempunyai kedewasaan karakter untuk menghadapi tantangan kehidupan. Dengan memperbaharui total perangkat ajar kelas 9 (CP, ATP, Prota, Promes, Modul Ajar, KKTP), kita membangun sebuah sistem yang memanusiakan, memberdayakan, dan memperdalam. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan dalam Islam yaitu menciptakan insan kamil (manusia sempurna) yang memanfaatkan akalnya secara mendalam (pembelajaran mendalam) untuk memberikan kontribusi dengan penuh kasih pada peradaban. Ini merupakan bekal terbaik yang bisa kita berikan kepada calon pemimpin masa depan di akhir jenjang pendidikan dasar mereka.
%20Kelas%209%20MTs.webp)