Modul Ajar Deep Learning Seni Teater Kelas 11 Kurikulum Merdeka
Pendidikan kesenian, khususnya Seni Teater, sering kali diabaikan dalam urutan mata pelajaran di sekolah. Ia dianggap sebagai pelajaran yang hanya mengisi waktu luang atau sekadar kegiatan ekstra. Namun, dalam kurikulum merdeka, Seni Teater memperoleh posisi penting sebagai platform untuk mengembangkan kompetensi seni sekaligus keterampilan hidup yang sangat diperlukan di abad ke-21. Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan metode pembelajaran yang mendalam dan signifikan. Di sinilah pendekatan Deep Learning yang mengutamakan Mindful Learning (Pembelajaran Penuh Kesadaran), Meaningful Learning (Pembelajaran Bermakna), dan Joyful Learning (Pembelajaran yang Menggembirakan) menjadi sangat penting dalam pembuatan modul ajar deep learning Teater kelas 11 kurikulum merdeka.
Memahami Dasar: Kurikulum Merdeka dan Fase F
Kurikulum merdeka memberikan kebebasan kepada guru dan siswa untuk mengeksplorasi konten serta metode pembelajaran dengan cara yang lebih fleksibel dan sesuai konteks. Dalam struktur kurikulum tersebut, siswa kelas 11 SMA/MA/SMK berada dalam fase F. Capaian Pembelajaran pada fase ini berfokus pada peningkatan kemampuan dalam mengapresiasi, menciptakan, dan menyajikan karya teater yang lebih rumit, baik secara individu maupun kelompok. Siswa tidak hanya berperan dalam drama, tetapi juga memahami elemen-elemen naskah, penyutradaraan, tata artistik (panggung, pencahayaan, kostum, properti), serta menganalisis karya teater dalam konteks budaya dan sosialnya.
Modul ajar kurikulum merdeka berfungsi sebagai panduan praktis bagi guru untuk merancang alur pembelajaran yang memenuhi capaian tersebut. Pendekatan Deep Learning dipilih karena sesuai dengan semangat kurikulum merdeka yang berorientasi pada siswa dan bertujuan untuk membangun kompetensi secara keseluruhan.
Deep Learning: Lebih dari Sekadar Bermain Peran
Deep Learning adalah metode pendidikan yang ditujukan untuk menciptakan pengalaman belajar yang mendalam dan bermakna bagi siswa. Metode ini melampaui sekadar mengingat dan memahami, menuju pada kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, berkomunikasi, dan berkreasi.
1. Mindful Learning
Dalam konteks teater melibatkan semua indera, pikiran, dan perasaan siswa secara menyeluruh. Ini adalah proses di mana siswa sepenuhnya hadir dan menyadari apa yang mereka lakukan, rasakan, dan pelajari. Dalam latihan teater, hal ini mirip dengan konsep "ada di saat ini" yang sangat krusial bagi seorang aktor.
2. Meaningful Learning
Meaningful learning menekankan pentingnya hubungan antara bahan ajar dengan kehidupan nyata siswa. Pembelajaran Seni Teater kelas 11 SMA/MA fase F harus relevan dengan pengalaman, minat, dan konteks sosial budaya mereka. Siswa harus melihat bahwa apa yang mereka pelajari mempunyai nilai dan aplikasinya langsung di luar lingkungan kelas.
3. Joyful Learning
Joyful learning menciptakan atmosfer belajar yang positif, aman, dan bebas dari ketakutan untuk mencoba dan mengalami kegagalan. Kegembiraan dalam seni teater muncul dari proses eksplorasi, ekspresi diri, dinamika kelompok, dan perasaan pencapaian ketika sebuah pertunjukan berhasil dilakukan.
Mengintegrasikan Deep Learning ke dalam Modul Ajar Teater Kelas 11
Berikut adalah contoh penerapan ketiga pilar tersebut dalam sebuah modul ajar deep learning Seni Teater kelas 11 kurikulum merdeka yang bertemakan "Mengkritisi Sosial melalui Teater Dokumen".
Tujuan Pembelajaran
- Siswa dapat mengidentifikasi isu-isu sosial di sekitar mereka.
- Siswa dapat mengumpulkan data (melalui wawancara, pengamatan) dan mengolahnya menjadi potongan naskah teater dokumen.
- Siswa dapat mempersembahkan potongan teater dokumen dengan memperhatikan elemen-elemen pertunjukan (peran, pengaturan adegan, dan tata panggung sederhana).
- Siswa dapat merefleksikan nilai-nilai yang mereka peroleh dari proses tersebut.
Aktivitas Pembelajaran dan Integrasi Deep Learning
Tahap 1: Eksplorasi dan Penemuan (Meaningful & Mindful Learning)
- Kegiatan: Guru meminta siswa untuk berdiskusi tentang masalah-masalah yang relevan dengan kehidupan mereka (perundungan di sekolah, ketimpangan ekonomi, tekanan dalam pendidikan, isu lingkungan di sekitar sekolah, dan lain-lain). Siswa dibagi ke dalam kelompok dan memilih satu masalah untuk diteliti lebih lanjut.
- Meaningful Learning: Topik yang diangkat berasal dari realitas kehidupan siswa, menjadikan kegiatan pembelajaran sangat relevan dan pribadi. Mereka tidak hanya mempelajari seni peran, tetapi juga sosiologi serta empati.
- Mindful Learning: Siswa didorong untuk memperhatikan lingkungan mereka dengan cara pandang yang baru. Proses wawancara dengan narasumber (misalnya, teman yang pernah mengalami perundungan, pedagang kaki lima di dekat sekolah) memerlukan kepekaan dan kesadaran penuh untuk mendengarkan dengan aktif dan empatik.
Tahap 2: Kreasi dan Eksperimen (Joyful & Meaningful Learning)
- Kegiatan: Kelompok siswa menjadikan data mereka sebagai naskah yang pendek. Mereka bereksperimen dengan berbagai gaya penyutradaraan, karakter, dan penggunaan properti sederhana. Guru berfungsi sebagai fasilitator yang memberikan umpan balik, bukan sebagai pengajar yang otoriter.
- Joyful Learning: Proses ini penuh dengan eksperimen, tawa, serta dinamika kelompok. Kesalahan dalam pengaturan atau lupa dialog dipandang sebagai bagian dari kegiatan belajar, bukan sebagai kegagalan. Lingkungan "laboratorium" yang aman dan menyenangkan sangat diperlukan.
- Meaningful Learning: Mengolah data mentah menjadi sebuah karya seni adalah proses yang sangat berarti. Siswa menyadari potensi seni sebagai alat untuk kritik sosial dan penyampai pesan.
Tahap 3: Presentasi dan Refleksi (Mindful & Meaningful Learning)
- Kegiatan: Setiap kelompok mempersembahkan karya mereka. Kelompok lain dan guru bertindak sebagai audiens yang aktif. Setelah pertunjukan, diadakan sesi refleksi atau talkback.
- Mindful Learning: Saat tampil, siswa harus sepenuhnya hadir di panggung, mendengarkan teman satu panggung, dan memberikan respons kepada audiens. Mereka belajar untuk fokus dan mengelola emosi seperti rasa gugup. Audiens juga diundang untuk menyaksikan dengan penuh kesadaran dan kritis.
- Meaningful Learning: Refleksi setelah pertunjukan adalah puncak dari pembelajaran yang bermakna. Pertanyaan seperti "Pesan apa yang ingin kita sampaikan?" "Bagaimana perasaan kalian saat memerankan karakter ini?" "Apa yang kita pelajari tentang isu ini dan tentang diri kita sendiri?" membantu siswa dalam menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Mereka bukan hanya berperan dalam drama, tetapi telah melalui proses untuk menjadi agen perubahan.
Manfaat yang Diperoleh Siswa
Dengan modul ajar deep learning Seni Teater kelas 11 SMA/MA fase F menjadi sangat kuat. Siswa tidak hanya memenuhi capaian pembelajaran (CP), tetapi juga mengembangkan:
- Kecerdasan Emosional dan Sosial: Melalui kerja kelompok dan pendalaman karakter, mereka belajar empati, kolaborasi, dan cara menyelesaikan konflik.
- Keterampilan Berpikir Kritis dan Kreatif: Dari menganalisis isu sosial hingga menciptakan solusi artistik untuk merepresentasikannya.
- Kepercayaan Diri dan Kemampuan Komunikasi: Keberanian untuk tampil di depan umum dan menyampaikan pandangan adalah modal penting untuk kehidupan yang mereka pilih di masa depan.
- Rasa Tanggung Jawab dan Disiplin: Menyelesaikan proyek pertunjukan dari awal hingga akhir memerlukan komitmen serta manajemen waktu yang baik.
Download Modul Ajar Deep Learning Seni Teater Kelas 11
Di bawah ini modul ajar Seni Teater kelas 11 fase F kurikulum merdeka yang menggunakan pendekatan deep learning:
Semester 1 (Ganjil)
Semester 2 (Genap)
Kesimpulan
Modul ajar deep learning Seni Teater kelas 11 SMA/MA fase F dalam kurikulum merdeka mempunyai potensi besar untuk mendasari pembentukan karakter generasi muda. Dengan menerapkan pendekatan Deep Learning yang mengintegrasikan kesadaran penuh (Mindful), keterkaitan hidup (Meaningful), dan kegembiraan (Joyful), metode pembelajaran Seni Teater mengalami perubahan besar. Kegiatan ini kini bukan hanya berfokus pada penciptaan aktor yang ideal, tetapi lebih kepada memberdayakan setiap siswa supaya siswa bisa berkembang menjadi individu yang utuh: berpikir kritis, kreatif, memiliki empati, dan berani menyatakan kebenaran melalui seni.
